• Ahmad Wahid

Black Lives Matter: Perjuangan Atlet Lawan Diskriminasi di Luar Lapangan

Updated: Jan 30

Topik ini juga tersedia dalam bentuk audio:


Kematian tragis George Floyd, disusul berbagai aksi unjuk rasa menuntut kesetaraan hak untuk hidup dengan aman dan bebas dari kekerasan yang meluas di Amerika Serikat bahkan menyebar hingga ke berbagai belahan lain dunia, menunjukkan secara gamblang adanya ketidaksetaraan dan masih eksisnya diskriminasi di berbagai sendi kehidupan manusia.


Sangat jelas jika dunia olahraga masih dipenuhi dengan rasisme, namun apakah prasangka buruk itu disertai dengan diskriminasi atau perlakuan tidak adil rasial? Apakah seseorang karena warna kulitnya menjadi sulit mendapat kesempatan untuk berkarier di dunia olahraga profesional, apakah karena warga keturunan membuatnya dihargai lebih rendah.


Menurut sebuah riset yang dilakukan Daniel Kilvington, Dosen senior dalam Studi Media dan Budaya, Universitas Leeds Beckett, sistem rekrutmen pemain profesional klub-klub Inggris mengecualikan para pesepakbola Inggris keturunan Asia. Islampobia di akar rumput juga membuat minim munculnya bakat-bakat dari keturunan migran muslim.


Rasisme seperti para atlet atau pemain ras tertentu mendapat hinaan dari penonton atau sesama profesi atlet. Sebagai contoh, Mario Balotelli diejek dengan suara monyet, Son Heung-min dihina dengan gestur mata sipit, lalu di NFL pemain Baltimore Orioles Adam Jones dilempar sekantong kacang, dan pembalap NASCAR Bubba Wallace mendapat teror jerat gantung diri di garasi. Sedangkan di sosial media sejumlah atlet mendapat perundungan dan makian bernada rasis.


Jika rasisme umumnya terjadi di dalam lapangan dan ranah media sosial, diskriminasi rasial terjadi di luar lapangan. Sejumlah fakta menunjukkan bahwa tidak ada perwakilan kulit hitam di posisi manajer/pelatih dan wasit Premier League dalam beberapa musim terakhir. Bahkan belum pernah ada wasit kulit hitam sepanjang sejarah penyelenggaraan Liga Champions Eropa!


Buku Soccernomics karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski pun secara tegas menyatakan dengan bukti bahwa ada diskriminasi di sepak bola Inggris yang berlangsung selama puluhan tahun.


Apakah masih ada ketidaksetaraan di olahraga profesional di Amerika Serikat atau bahkan di tanah air?


Sejarah Diskriminasi Rasial di Luar Arena, Kasus di Sepak bola Inggris


EFNugraha:

Sekilas disebut bahwa di buku Soccernomics menyatakan ada bukti diskriminasi rasial di olahraga Inggris, tepatnya sepak bola Inggris yang berlangsung selama bertahun-tahun. Bisa diceritakan seperti apa sejarah dan kejadiannya bung?


Adjiok:

Jadi begini. Di dalam buku Soccernomics itu memang ada bab yang secara khusus menceritakan tentang diskriminasi rasial di sepak bola Inggris, yakni Benarkah Sepak bola Inggris Mendiskriminasi Orang Kulit Hitam?


Nah, Szymanski ini melakukan riset tentang diskriminasi terhadap pemain-pemain kulit hitam, dan memiliki data yang membuktikan bahwa sepak bola Inggris bertindak diskriminatif terhadap pemain kulit hitam.


Szymanski menemukan cara untuk menguji kebenaran adanya diskriminasi di sepak bola, yakni dari daftar belanja pemain. Dari daftar tersebut, apakah manajer tim lebih menyukai pemain kulit putih ketimbang kulit hitam.


Stefan lalu bertemu dengan Michael Crick, jurnalis politik di BBC, yang tertarik dengan topik diskriminasi rasial oleh klub-klub Inggris. Crick mulai mengumpulkan data sejak 1970an tentang klub yang merekrut pemain kulit hitam.


Data tersebut menunjukkan bahwa musim 1973-74, hanya dua dari 39 klub profesional yang menurunkan pemain kulit hitam. Tetapi 10 tahun kemudian, tepatnya musim 1983-84, bertambah menjadi total 19 klub yang menurunkan pemain kulit hitam.


Kondisi semakin membaik, ketika era Premier League dimulai pada 1992, dengan hanya tinggal sisa lima klub dari seluruh klub peserta yang tidak menurunkan pemain kulit hitam, Artinya sudah 90% klub yang menyertakan pemain kulit hitam di tim utama.



EFNugraha:

Setelah Szymanski dan Crick menemukan fakta-fakta tersebut. Apa yang kemudian disimpulkan oleh mereka?


Adjiok:

Szymanski punya bukti dan menyimpulkan ada diskriminasi. Misal: meski memiliki anggaran transfer yang sama tetapi ada klub yang lebih memilih merekrut pemain kulit putih yang lebih mahal. Akibatnya, klub itu hanya punya sedikit bahkan tidak ada sama sekali pemain kulit hitam di tim mereka. Padahal pemain kulit hitam tersebut secara kualitas lebih baik tetapi berharga lebih murah.


Sebenarnya, klub-klub dengan jumlah pemain kulit hitam sedikit itu sadar ya, bahwa secara sistematis memiliki pemain kulit hitam lebih menguntungkan daripada pemain kulit putih. Namun, ya gitu enggan merekrut pemain kulit hitam berdasarkan prasangka buruk. Jadi, inilah bukti ada diskriminasi di sepak bola menurut Stefan.


Namun berita baiknya, menurut Stefan, diskriminasi terhadap pemain kulit hitam sudah berakhir pada akhir 1990an, seiring dengan iklim kompetisi yang menuntut penilaian obyektif dari para manajer klub bola.

Sekarang ini, para pemain kulit hitam mulai dibayar sesuai dengan kemampuan mereka dan sumbangsihnya untuk tim, dan kian hari kian banyak pemain kulit hitam yang berkarier di dunia sepak bola profesional.


EFNugraha:

Dengan demikian benar sudah tidak ada diskriminasi rasial di sepak bola Inggris saat ini?


Adjiok:

Kalau di level pemain sih seperti yang udah disebut tadi, Szymanski mengklaim udah ngga ada ya. Yang justru mencuat kembali seiring ramainya aksi unjuk rasa terkait kematian Floyd adalah sedikitnya orang kulit hitam di jajaran staf tim. Inilah yang oleh Soccernomics disebut diskriminasi baru di sepak bola Inggris, banyak pemain kulit hitam tapi sedikit yang menjadi pelatih atau bahkan wasit.


Saat ini, ada 20 persen pemain kulit hitam di Inggris di berbagai level kompetisi, tetapi tidak ada satu pun orang kulit hitam di kursi manajer klub Premier League.

Dwight Yorke secara terbuka mengeluh kesulitan meski sudah mendapat rekomendasi dari Sir Alex Ferguson.


Luther Blisset, eks pemain timnas Inggris dan AC Milan, pernah melamar 22 pekerjaan sebagai pelatih pada 1990an, tetapi tidak ada satu pun yang mau mewawancarai. John Barnes bahkan menyebut kondisi langkanya pelatih kulit hitam sekarang ini seperti kondisi pemain kulit hitam pada 1970an.


Diskriminasi terhadap manajer atau pelatih kulit hitam ini justru awalnya terlihat di olahraga Amerika bung. Pada 1969, Jackie Robinson menolak menghadiri acara Old Timers’ Day di Stadion Yankee sebagai bentuk protes atas diskriminasi terhadap pelatih dan manajer kulit hitam di olahraga bisbol.


Diskriminasi Rasial di Olahraga Amerika Serikat dan Kaitannya dengan Sponsorship


EFNugraha:

Menarik ya bicara tentang diskriminasi rasial di olahraga. Gue punya beberapa cerita soal itu di olahraga Amerika yang kurang lebih sama bahwa ada atau setidaknya pernah diskriminasi rasial di olahraga sana.


Di Amerika Serikat, warga kulit hitam mendapat perlakuan diskriminasi di masyarakat, terutama kesempatan di lapangan pekerjaan, sehingga mereka memilih menjadi atlet (NBA/NFL/MLB) untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dua olah raga terpopuler NBA & NFL memiliki persentase pemain berkulit hitam sekitar 70-80%. Seolah menjadi bukti bahwa warga kulit hitam memilih olahraga profesional sebagai sarana memperbaiki perekonomian setelah kesulitan bekerja di bidang pekerjaan lain.


Keterlibatan warga kulit hitam di dunia olahraga profesional belum terhitung lama. Menurut Washington Post, dunia olahraga profesional baru membuka pintu bagi kulit hitam pada Maret 1946 ketika Kenny Washington bergabung dengan klub NFL Los Angeles Rams.


Setahun kemudian, Jackie Robinson menjadi atlet kulit hitam pertama di MLB bergabung dengan Brooklyn Dodgers. Sejak itu ribuan warga Afro-Amerika mengikuti jejak Washington dan Robinson.


Adjiok:

Jurnalis Bleacher Report, Manny Otiko, pernah menulis bahwa di Eropa masyarakatnya lebih toleran dibandingkan dengan apa yang terjadi di level manajemen olah raga profesional. Di Amerika, justru kebalikan. Menarik untuk diceritakan bagaimana olahraga justru jadi salah satu alat perjuangan kesetaraan di Amerika ya?


EFNugraha:

Di masa lalu hingga 1960an, banyak atlet kulit hitam yang vokal seperti Muhammad Ali menolak wajib militer dan menentang Perang Vietnam, Jackie Robinson menentang lagu kebangsaan, Tommie Smith dan kisahnya di Olimpiade 1968. Hal itu sesuai dengan kondisi sosial politik saat itu dengan warga Afro-Amerika di bawah Marthin Luther King Jr. banyak bersuara mempersoalkan Sistem Segregasi dan menuntut kesetaraan hak-hak sipil di berbagai bidang.


Pada 1980an hingga sekarang atlet kulit cenderung tidak ingin terlibat dalam isu-isu politik. Michael Jordan, tidak mau mendukung Hervey Gannt seorang Afro-Amerika yang mencalonkan diri menjadi senat North Carolina dari Partai Demokrat menantang inkumben dari Partai Republik Jesse Helms yang dikenal rasis. Jordan beralasan warga Republikan juga membeli sepatu Nike yang diiklaninya. Sikap Jordan ini oleh banyak orang dianggap lebih mementingkan profit daripada prinsip.


So, is racism getting better there? Or, are Athlete's getting less outspoken?

Kalau menurut gue sih… kalau kita kaitkan hal ini dari sisi komersial, di tahun 1970-an memang mulai banyak brand atau pengiklan di Amerika yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada Afro-Amerika untuk menjadi endorsee atau bintang iklannya.



Mungkin juga para Atlet menyadari, kalau mereka terlalu vocal dan terlibat isu politik, kesempatan tersebut akan kembali tertutup. Lalu terbitlah kerja sama sensasional Jordan dan Nike, di mana gue sempet baca di sebuah sumber, ya brand itu udah bukan melihat lagi warna kulit putih atau hitam tapi udah warna hijau ajah yang penting. Ini akan balik lagi yah ke value brand, karakter eksekutif yang manage brand teresbut, BoD, dan lainnya.


Dengan adanya hal di atas, semakin populernya basket (yang notabene didonimasi Afro-Amerika ya mau ngga mau di level kompetisinya juga pasti harus beradaptasi dengan hal tersebut. Faktanya, saat ini di AS sendiri kasus rasis masih terjadi juga. LeBron pernah divadalized rumahnya tahun 2017 dengan perkatan rasis.


Belum lagi kalau bicara olah raga yang tidak didominasi oleh Black American (MLB, NHL, MLS) mungkin saja ada berbagai tekanan dari penonton, lawan, staff atau teman setim sendiri. Karena mayoritas penonton masih warga berkulit putih.


Adjiok:

Hari-hari ini, seiring momen kematian Floyd dengan kampanye Black Lives Matters, banyak pesepak bola yang lebih berani menyatakan sikap. Sebut saja Jadon Sancho, Raheem Sterling dll. Terutama Sterling dan beberapa rekannya di timnas seperti Marcus Rashford yang mengalami sendiri efek rasisme yang bergerak ke ranah media sosial.


Tidak ada lagi kekhawatiran menghindari topik-topik sensitif seperti politik karena masyarakat sendiri semakin sadar politik dan para sponsor juga mayoritas mendukung berbagai kampanye yang menuntut kesetaraan dan keadilan.


EFNugraha:

Balik lagi ke poin sebelumnya, selain memang pada ujungnya adalah profit. Visi sports brand itu tentunya membantu para Atlet untuk mencapai performa terbaiknya. Dan biasanya poin pertama yang akan dilihat adalah performa di dalam lapangan, karena secara korelasi ke produk pasti ingin membuat produknya kredibel.


Ditambah sekarang, kanal komunikasi sudah semakin terbuka, medium iklan semakin bervariatif, akses konsumen terhadap jeroan brand lebih dekat. Agak ngga masuk akal kalau misalkan ada brand yang memang masih menerapkan faham rasisme dalam pemilihan Atlet yang akan mereka sponsori, karena sensitifitas terhadap kampanye-kampanye ini pun semain lebih tinggi. Justru brand-brand sekarang juga akan lebih reaktif dalam mendukung apa yang menjadi isu masyarakat karena poin-poin yang pertama tadi dan juga adanya matrik engagement sekarang.


Hal ini terefleksi dari list Top Athlete Endorsement di tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Opendorse, sebuah perusahaan yang memiliki spesialisasi di Athlete Marketing. Pada pembuatan list tersebut selain long term contract turut dikalkulasijuga social paid post berdasarkan estimasi cost per engagemen, impressiond dan per thousand followers. Jadi harusnya list ini sangat kredibel.

List pertama dipegang oleh Roger Federer, namun di top 10 ada Tiger Woods, Lebron James, Steph Curry, Kevin Durrant, Kei Nishikori yang merupakan atlet-atlet kulit berwarna.


Adakah Diskriminasi Rasial Luar Lapangan di Indonesia?


Adjiok:

Menarik ya kalau melihat di luar negeri, perhitungannya sudah sangat detil. Ada entitas yang memang mau mengurusi hal seperti itu dan dapat membuatnya menjadi sebuah bisnis. Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia?


EFNugraha:

Nah, bener sih. Kita akan sulit menyimpulkan di Indonesia apakah ada praktek-praktek rasisme di luar lapangan (dari sisi komersial) atau tidak. Karena list semacam ini tidak ada. Walau dari segi social media following dan paid post yang dibuat sebenernya kita bisa melakukan riset sendiri.


Kalau dari sisi nilai kontrak yang lebih jangka panjang, kecenderungannya karena kultur mungkin yah cukup susah mencari berita atau rilisnya. Rata-rata jarang didisclosed, kalaupun ada yang tahu kebanyakan di pemangku-pemangku kepentingan terdekat untuk kepentingan bidding sponosrhsip contohnya.


Value kontrak dengan brand yang datanya sedikit bisa kita temukan adalah olah raga bulu tangkis. Asusmsi gw karena following Atlet-Atletnya udah di level dunia. Dan kontrak yang dibuat juga biasanya langsung melibatkan tim regional atau global brand-brandnya.


Salah satu misi Luarena (yang sedang kita kerjakan) adalah untuk bisa menyajikan data-data tersebut. Menarik kan kalau misalkan kita bisa memiliki akses kepada informasi yang bisa memberikan data apakah kesempatan kepada teman-teman Atlet kita yang berprestasi sama rata.


Jadi, saat ini kita belum bisa menyimpukan, dalam konteks komersial di luar lapangan apakah terjadi diskrimniasi atau tidak di Indonesia.




19 views0 comments